PUBLIK SOROTI REVITALISASI SMA ISLAMIC CENTRE JOGOLOYO WONOSALAM DEMAK Rp 1,6 M: KAYU LAPUK DAN GENTENG BEKAS DIPASANG, SWAKELOLA DIDUGA DI-SUB-KAN
DEMAK,sorotnuswantoro.com, 25 Oktober 2026 - Publik pertanyakan spesifikasi pekerjaan dan kepanitiaan pembangunan gedung bantuan pemerintah program Revitalisasi SMA Islamic Centre di Jalan Diponegoro No. 47 Desa Jogoloyo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak Jateng.
Proyek APBN senilai "Rp 1.643.877.000,-" dengan sistem swakelola tersebut seharusnya menghasilkan kualitas terbaik, bukan sebaliknya.
"Pekerjaan 7 jenis meliputi:"
Rehabilitasi 4 Ruang Kelas, Rehabilitasi Lab. IPA, Perpustakaan, Lab Komputer, Ruang Kepala Sekolah dan Wakil, Ruang TU, dan Ruang Guru.
Namun fakta di lapangan berbanding terbalik dengan harapan.
Di lokasi, bagian kayu usuk dan kuda-kuda memakai kayu bekas yang sudah tidak layak pakai, lapuk, bolong bolong dan mudah patah Genteng hampir menyeluruh memakai genteng bekas.
Walaupun di spesifikasi RAB diperbolehkan memakai bekas kayu bongkaran gedung itu sendiri, syaratnya harus yang masih layak pakai. Bukan kayu lapuk, bolong asal pasang.
"Jangan asal jadi saja. Ini gedung sekolah untuk anak-anak. Kalau kuda-kuda lapuk ambruk, siapa yang tanggung jawab? Ini dana APBN 1,6 Miliar," keluh wali murid.
Yang lebih disorot, pembangunan revitalisasi dengan sistem swakelola yang seharusnya dikerjakan panitia pembangunan sekolah (P2SP) secara gotong royong dan transparan, diduga kuat dipindahtangankan / di-sub-kan ke pemborong.
Struktur panitia dan SP2HP diduga hanya dibuat sebagai acuan di atas kertas saja, untuk memenuhi laporan ke pusat.
Pembangunan swakelola mengharapkan kualitas terbaik, kontrol mutu dari sekolah dan komite, bukan diserahkan ke pihak ketiga yang cari untung.
Publik mendesak Balai Prasarana Kemendikbud Jateng, Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, dan Inspektorat segera sidak ke SMA Islamic Centre Jogoloyo Wonosalam.
Periksa mutu kayu kuda-kuda, usuk, dan genteng. Periksa RAB vs realisasi. Periksa kepanitiaan, apakah swakelola murni atau di-sub-kan.
Jangan sampai Revitalisasi Rp 1,6 Miliar APBN ini jadi ajang bancakan dan membahayakan keselamatan siswa.
( Windi )