Pesisir Kendal Terancam Abrasi dan Rob, BP-GMN Gandeng Warga Perkuat Benteng Mangrove
KENDAL – Ancaman abrasi dan banjir rob yang terus menggerus kawasan pesisir Kabupaten Kendal mendorong Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BP-GMN) menggandeng pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menanam 1.000 bibit mangrove di pesisir Desa Kartikajaya, Kecamatan Patebon, Kendal, Jumat (6/11/2026).
Penanaman tersebut mengusung tema BP-GMN dengan Semangat Asta Cita: Pesisir Utara, Bersih Sanitasinya, Lestari Mangrovenya. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perlindungan, pemulihan, dan pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kawasan pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Abrasi Telah Menghilangkan Puluhan Hektare Lahan
Kepala Desa Kartikajaya, Budi Hartono, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas penanaman 1.000 bibit mangrove di wilayahnya. Menurutnya, keberadaan mangrove sangat penting bagi masyarakat karena kawasan pesisir desanya telah lama menghadapi persoalan abrasi yang menyebabkan hilangnya puluhan hektare lahan.
Budi menceritakan, pada era 1970-an, sebagian kawasan yang kini terdampak abrasi masih berupa area persawahan. Namun, seiring berjalannya waktu, air laut terus mengikis daratan hingga mengubah kondisi lingkungan pesisir.
"Dahulu, sekitar tahun 1970-an, kawasan ini masih berupa sawah. Namun, seiring waktu, abrasi terus terjadi hingga puluhan hektare lahan hilang," ungkap Budi.
Ia berharap penanaman mangrove tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan dan keterlibatan masyarakat. Pemerintah desa juga berencana mengembangkan kawasan wisata buatan berbasis mangrove sebagai upaya pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
"Harapan kami, pemerintah bersama masyarakat dapat terus bersinergi menanggulangi abrasi. Kami juga merencanakan pengembangan wisata mangrove agar kawasan ini memiliki manfaat lingkungan sekaligus ekonomi," tambahnya.
Mangrove dan Tanggul Laut Perlu Berjalan Beriringan
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Kendal, Achmad Ircham Chalid, menyambut baik program penanaman mangrove tersebut. Menurutnya, kegiatan itu menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi persoalan rob dan kerusakan lingkungan di kawasan pesisir Kendal.
Ia juga menyinggung rencana pemerintah pusat untuk melakukan pembangunan sea wall atau tanggul laut di wilayah pesisir Kendal. Namun, pembangunan infrastruktur tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem alami.
"Kami memohon masyarakat ikut menjaga dan merawat tanaman mangrove ini agar tidak mati atau hilang. Semoga dapat tumbuh dengan baik dan menjadi benteng alami untuk mengurangi dampak air pasang serta abrasi," ujarnya.
Kepala BP-GMN, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan gerakan bersama dan tidak hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, ekosistem mangrove memiliki peran penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir, terutama dalam menghadapi perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, dan ancaman banjir rob.
"Harus ada gerakan masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan di sekitar kita. Persoalan ini membutuhkan penanganan yang sangat serius karena mangrove bukan hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan baik," jelasnya.
Satyawan menjelaskan, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare ekosistem mangrove, tetapi sebagian di antaranya mengalami kerusakan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena hilangnya pelindung alami pesisir dapat memperbesar dampak kenaikan air laut dan banjir rob. Menurutnya, perubahan iklim bukan sekadar isu global, melainkan persoalan nyata yang dirasakan masyarakat ketika air laut semakin naik dan kawasan permukiman tidak lagi memiliki perlindungan alami yang memadai.
Mangrove Berpotensi Dukung Ekonomi Masyarakat
Lebih lanjut, Satyawan menyampaikan bahwa pelindungan pesisir tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan tanggul laut. Pengelolaan kawasan harus dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan keberadaan ekosistem mangrove dan lingkungan sekitarnya.
Ia menilai mangrove memiliki fungsi ekologis sekaligus nilai ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengelolaan berkelanjutan. Kawasan mangrove berpotensi mendukung habitat ikan, kepiting, dan bandeng, sekaligus dikembangkan menjadi destinasi ekowisata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Relawan Jejak Bumi, Bangkit Swasono, menambahkan bahwa penanaman mangrove di Desa Kartikajaya bersama BP-GMN merupakan langkah nyata menjaga keseimbangan lingkungan di tengah pesatnya pertumbuhan industri. Menurutnya, mangrove berperan melindungi kawasan pesisir, mengurangi abrasi, menyerap karbon, serta menjaga kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati.
"Penguatan kawasan hijau pesisir menjadi hal penting agar pertumbuhan industri dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan. Dengan demikian, keberlanjutan ekosistem tetap terjaga dan kualitas hidup masyarakat Kendal dapat terus ditingkatkan," pungkas Bangkit.
Melalui penanaman 1.000 bibit mangrove tersebut, diharapkan tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga kawasan pesisir Kendal. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari komitmen pemerintah dan masyarakat dalam merawatnya hingga tumbuh menjadi benteng alami pesisir sekaligus sumber penghidupan berkelanjutan.(@)