Relawan Jejak Bumi Apresiasi Langkah Nyata BP-GMN Tanam Mangrove di Kartikajaya
KENDAL – Ancaman banjir rob dan abrasi yang terus membayangi kawasan pesisir Kabupaten Kendal mendorong perlunya langkah nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya melalui pemulihan ekosistem mangrove yang diharapkan mampu menjadi benteng alami dalam melindungi wilayah pesisir.
Upaya tersebut diwujudkan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BP-GMN) melalui kegiatan penanaman mangrove di Desa Kartikajaya, Kecamatan Patebon, Jumat (6/11/2026). Dalam kegiatan ini, disiapkan area penanaman seluas 10 hektare dengan 1.000 bibit mangrove dalam polybag dan 15.000 propagul.
Penanaman yang dipimpin langsung Kepala BP-GMN Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko bersama Wakil BP-GMN Mayjen TNI (Purn) Sriyanto ini juga melibatkan Relawan Jejak Bumi Kendal.
Relawan Jejak Bumi, Bangkit Suasono menilai penanaman mangrove di Kartikajaya merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan, terutama di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Kendal.
Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki banyak manfaat, mulai dari melindungi kawasan pesisir, mengurangi abrasi, menyerap karbon, hingga menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati.
"Penanaman mangrove ini merupakan langkah nyata untuk menjaga keseimbangan lingkungan di tengah pesatnya pertumbuhan industri. Dengan memperkuat kawasan hijau pesisir, pembangunan industri dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat Kendal," ungkapnya.
Ia berkomitmen, kegiatan tersebut tidak berhenti pada penanaman semata, tetapi pihaknya akan bersama-sama melanjutkan pemeliharaan dan pengawasan agar mangrove yang ditanam dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir.
Kepala BP-GMN Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi kawasan pesisir Kartikajaya yang terdampak kenaikan permukaan air laut. Selain itu, pihaknya ingin mengidentifikasi langkah mitigasi yang tepat agar dampak perubahan lingkungan terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Menurutnya, kenaikan permukaan air laut kini telah menjangkau kawasan pedesaan sehingga diperlukan penanganan serius, salah satunya dengan memperbaiki dan mengembangkan ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove.
Mangrove bukan sekadar tanaman penghijauan, melainkan memiliki fungsi strategis sebagai pelindung alami pantai dari abrasi dan gelombang laut. Ekosistem ini juga menjadi habitat berbagai biota perairan seperti ikan, udang, dan kerang yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
"Kita berkunjung ke Desa Kartikajaya untuk mengetahui problema kawasan pesisir yang disebabkan adanya kenaikan air laut yang sekarang sudah mencapai area pedesaan. Salah satu mitigasi agar dampaknya tidak terlalu besar adalah dengan memperbaiki ekosistem pesisir," ujarnya.
Satyawan juga menyoroti pentingnya pengelolaan tambak yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, aktivitas budidaya perikanan perlu dipadukan dengan pelestarian mangrove melalui sistem silvofishery, yakni pola pengelolaan tambak yang mengintegrasikan kegiatan perikanan dengan ekosistem mangrove.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi dan memperoleh hasil dari budidaya perikanan tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan pesisir.
"Tadi kita juga telah melihat langsung kondisi tambak yang ke depannya perlu dipadukan dengan ekosistem mangrove. Dengan demikian, kegiatan perekonomian masyarakat tetap berjalan dengan baik, sementara kelestarian lingkungan juga tetap terjaga," jelasnya.
Selain penanaman mangrove, rombongan BP-GMN didampingi Relawan Jejak Bumi juga meninjau proyek sanitasi di kawasan pesisir. Pembangunan fasilitas sanitasi, termasuk MCK, menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan permukiman.(@)