Perkuat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Bupati Launching Tiga Inovasi

Perkuat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Bupati Launching Tiga Ino
11-Jun-2026 | sorotnuswantoro Wonosobo

Advetorial - Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, melaunching tiga inovasi pelayanan kesehatan, MAS JO SI MANIS (Puskesmas Sukoharjo Sigap Sama Prolanis), SOPANDI (Sistem Observasi dan Pencatatan Prolanis di Desa), dan GULALI MANIS (Gerakan Unggulan Laboratorium Keliling Melalui Prolanis), Rabu (10/6/2026), di Puskesmas Sukoharjo I. Hal ini, sebagai wujud nyata kehadiran Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam memperkuat pengendalian penyakit tidak menular sekaligus meningkatkan pengendalian penyakit kronis di masyarakat. Demikian ditegaskan Bupati dalam sambutannya.

Selain itu, Afif juga menyampaikan, bahwa tantangan kesehatan masyarakat saat ini semakin kompleks. Untuk itu, pentingnya angka harapan hidup diimbangi dengan upaya serius dalam mengendalikan penyakit tidak menular, khususnya hipertensi dan diabetes melitus yang masih menjadi ancaman kesehatan utama.

"Data menunjukkan, di Kabupaten Wonosobo terdapat lebih dari 136 ribu penderita hipertensi dan lebih dari 12 ribu penderita diabetes melitus. Hingga awal tahun 2026 masih terdapat sekitar 57 ribu penderita hipertensi dan lebih dari 10 ribu penderita diabetes yang belum terjangkau Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau Prolanis. Ini menjadi perhatian serius kita bersama," ujar Afif.

Menurutnya, hipertensi dan diabetes yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi berbagai komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal kronis, dan penyakit jantung. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga keluarga yang harus mendampingi serta menanggung konsekuensi sosial dan ekonomi yang ditimbulkan.

Karena itu, Afif menekankan pentingnya perubahan paradigma pelayanan kesehatan, dari yang semula menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan menjadi pelayanan yang aktif hadir lebih dekat kepada masyarakat.

"Mendekatkan pelayanan, mengendalikan penyakit kronis, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat bukan sekadar slogan. Ini adalah arah yang harus kita tempuh bersama. Kita tidak boleh menunggu masyarakat datang dalam kondisi sakit, tetapi harus hadir lebih awal, lebih dekat, dan lebih peduli," tegasnya.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada Puskesmas Sukoharjo I, Dinas Kesehatan, Labkesda, BPJS Kesehatan, tenaga kesehatan, dan para kader kesehatan yang berhasil menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, ketiga inovasi yang diluncurkan memiliki tujuan yang sama, yaitu memperkuat upaya pencegahan, memperluas jangkauan layanan kesehatan, serta memastikan masyarakat memperoleh pendampingan kesehatan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Afif mengaku bangga atas lahirnya inovasi tersebut di tengah keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki Puskesmas Sukoharjo I.

"Ini sebuah ide, gagasan, dan inovasi yang luar biasa dari Puskesmas Sukoharjo. Bagaimana dengan SDM yang terbatas mereka mampu memberikan pelayanan yang lebih maksimal dan totalitas kepada masyarakat. Harapannya penyakit-penyakit kronis dapat termonitor dengan jelas, didampingi, dimotivasi, dan ditangani sejak dini," ungkapnya.

Ia juga berharap inovasi serupa dapat direplikasi oleh puskesmas lain di Kabupaten Wonosobo melalui semangat kolaborasi dan saling berbagi praktik baik.

"Kita harus kompak dan saling mendukung. Jika ada inovasi yang baik di Sukoharjo, wilayah lain bisa meniru. Jika nanti ada inovasi baik dari puskesmas lain, maka yang lain juga bisa mengadopsi. Tujuan akhirnya adalah mewujudkan Wonosobo yang sehat," katanya.

"Keberhasilan inovasi ini tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari semakin banyaknya masyarakat yang tetap sehat, produktif, dan terhindar dari komplikasi penyakit kronis. Karena masyarakat yang sehat merupakan modal terbesar untuk mewujudkan Wonosobo yang Sejahtera, Adil, dan Makmur," pungkas Bupati.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, menambahkan, peluncuran inovasi ini merupakan bagian dari strategi penguatan pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) yang saat ini menjadi tantangan kesehatan terbesar di daerah.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan jumlah penderita hipertensi di Kabupaten Wonosobo meningkat dari 107.394 orang pada tahun 2023 menjadi 136.803 orang pada tahun 2025. Sedangkan jumlah penderita diabetes melitus meningkat dari 7.722 orang menjadi 12.261 orang pada periode yang sama.

"Angka ini menunjukkan bahwa pengendalian penyakit kronis harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Apalagi hipertensi dan diabetes yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal kronik, dan gagal jantung yang membutuhkan biaya pengobatan sangat besar," jelas Jaelan.

Ia menambahkan, hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menunjukkan masih tingginya masyarakat yang masuk kelompok risiko, seperti prehipertensi, prediabetes, dislipidemia, hingga hasil pemeriksaan EKG abnormal. Karena itu, intervensi promotif dan preventif perlu diperkuat agar masyarakat tidak jatuh pada kondisi yang lebih berat.

Sebagai salah satu solusi, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan terus dikembangkan. Hingga Februari 2026, di Kabupaten Wonosobo telah terbentuk 133 Klub Prolanis Hipertensi dengan 6.796 peserta dan 51 Klub Prolanis Diabetes Melitus dengan 1.788 peserta. Namun jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan mengingat terdapat 265 desa dan kelurahan yang perlu dijangkau.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Sukoharjo I, Norman Kumoro, menjelaskan bahwa inovasi yang diluncurkan merupakan bentuk komitmen puskesmas untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 1.700 penderita hipertensi dan 280 penderita diabetes yang terdata di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo I. Namun dari jumlah tersebut, baru sekitar 480 peserta yang berhasil dikelola secara aktif dalam Program Prolanis.

"Melalui inovasi ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan pendampingan dan pelayanan kesehatan secara berkelanjutan. Kehadiran Bapak Bupati dan seluruh stakeholder hari ini menjadi energi positif bagi kami untuk terus konsisten memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," ujarnya.

Norman juga menjelaskan, bahwa MAS JO SI MANIS hadir dengan pendekatan jemput bola, di mana petugas kesehatan secara aktif mendatangi masyarakat untuk melakukan skrining risiko, pemeriksaan kesehatan, edukasi kelompok, pemantauan kepatuhan pengobatan, hingga deteksi dini komplikasi penyakit kronis.

Sementara itu, SOPANDI dikembangkan sebagai sistem digital yang memungkinkan seluruh hasil pemeriksaan peserta Prolanis dicatat, dipantau, dan dilaporkan secara real time. Melalui sistem ini peserta dapat menerima hasil pemeriksaan dan edukasi kesehatan melalui WhatsApp, sedangkan petugas memperoleh notifikasi dini apabila ditemukan kondisi yang memerlukan tindak lanjut segera.

Adapun GULALI MANIS merupakan inovasi kolaborasi dengan UPTD Labkesda Wonosobo yang menghadirkan layanan laboratorium keliling langsung ke desa-desa. Melalui layanan ini, masyarakat tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium penunjang, sehingga deteksi dini dan pemantauan penyakit kronis dapat dilakukan lebih mudah dan terjangkau.

Antusiasme masyarakat terhadap program ini terus meningkat. Setiap bulan jumlah peserta Prolanis bertambah, bahkan melampaui kapasitas ideal klub yang ditetapkan BPJS Kesehatan. Puskesmas tetap berupaya melayani seluruh peserta yang ingin mendapatkan pendampingan kesehatan, termasuk masyarakat yang belum menjadi peserta BPJS.

Melalui peluncuran ketiga inovasi ini, upaya pengendalian penyakit kronis dapat semakin efektif, memperluas akses pelayanan kesehatan hingga tingkat desa, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Tags