Bogor Diguncang Dugaan Musibah Keracunan Di Tambang Emas Nunggul, Pihak Berwenang Sedang Verifikasi
Pada hari Rabu, 14 Januari 2026, informasi mengenai dugaan musibah masal keracunan telah menjadi perbincangan hangat di masyarakat, terutama di wilayah Kabupaten Bogor. Pesan yang menyebar melalui media sosial menyatakan bahwa musibah terjadi di lokasi penambangan emas yang disebutkan berada di kawasan Nunggul, Desa Sukamulya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, yang dinyatakan dikelola oleh warga masyarakat.
Dalam pesan yang beredar tersebut, disebutkan bahwa terdapat keracunan yang berasal dari dalam lubang tambang, dengan perkiraan sebanyak 700 orang meninggal dunia di dalam lubang. Pesan tersebut juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki sanak keluarga, saudara, atau tetangga yang bekerja di lokasi penambangan tersebut agar segera mencari informasi atau melaporkan kepada pemerintah setempat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Selain itu, terdapat pula informasi yang menyebutkan adanya kejadian serupa di area pertambangan emas PT ANTAM unit Pongkor, Kabupaten Bogor, dengan perkiraan sebanyak 750 korban kematian akibat terpapar gas H₂S (hidrogen sulfida). Namun, informasi ini segera mendapatkan klarifikasi dari pihak PT ANTAM.
Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan pada hari yang sama, PT ANTAM menegaskan bahwa informasi mengenai kejadian keracunan atau korban kematian di area pertambangan milik mereka adalah hoaks. Perusahaan menyatakan bahwa operasional pertambangan emas Pongkor berjalan dengan aman dan sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku. Pihak perusahaan juga menyatakan bahwa mereka akan terus memantau situasi dan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengklarifikasi informasi yang tidak benar tersebut.
Sementara itu, pihak kepolisian melalui Kapolsek Nanggung, AKP Ucup Supriatna, mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima laporan mengenai dugaan musibah di kawasan tambang emas Nunggul. Namun, hingga saat ini belum ada keterangan resmi yang dapat membenarkan maupun membantah kebenaran informasi yang beredar. Petugas kepolisian beserta tim terkait telah segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan awal.
"Dalam tahap ini, kita belum bisa memastikan apakah benar terjadi keracunan gas, maupun jumlah korban yang disebutkan dalam informasi yang viral. Aparat juga belum dapat masuk ke dalam titik kejadian karena kondisi di dalam lubang masih dipenuhi asap pekat yang berpotensi membahayakan keselamatan," ujar AKP Ucup Supriatna dalam keterangannya.
Selain itu, Kapolsek Nanggung juga menegaskan bahwa berdasarkan data awal dan lokasi kejadian yang ditemukan, mereka yang diduga terjebak bukanlah pekerja resmi dari PT ANTAM. Hal ini menguatkan dugaan bahwa insiden tersebut mungkin menimpa para penambang emas tanpa izin (Peti) atau yang lebih dikenal dengan sebutan "gurandil" oleh masyarakat Jawa Barat. Para penambang tanpa izin ini seringkali memasuki area pertambangan yang tidak memiliki standar keselamatan kerja (K3) yang memadai, sehingga sangat rentan terhadap berbagai risiko bahaya, termasuk paparan gas beracun dari dalam tanah.
Pihak pemerintah desa Sukamulya dan instansi terkait juga menyatakan bahwa mereka sedang melakukan koordinasi dan upaya verifikasi terhadap informasi yang beredar. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai serta menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Sebaiknya, masyarakat menunggu penjelasan resmi dari pemerintah atau aparat berwenang agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kepanikan yang tidak perlu.
"Kita memahami kekhawatiran masyarakat terhadap kabar yang masuk. Namun, penting bagi kita semua untuk tidak menyebarkan berita yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Kita akan segera memberikan informasi resmi secepat mungkin setelah penyelidikan selesai," ujar Kepala Desa Sukamulya yang tidak ingin disebutkan namanya saat ini.
Dalam kasus serupa yang pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti pada tahun 2023 di Sulawesi Utara, di mana sebanyak 9 pekerja tambang emas ilegal mengalami keracunan zat asam dengan 3 orang meninggal dunia, faktor utama yang menyebabkan kejadian adalah kurangnya kesadaran akan keselamatan dan tidak adanya peralatan yang memadai. Selain itu, aktivitas penambangan tanpa izin juga seringkali menjadi penyebab utama terjadinya musibah karena tidak adanya pengawasan dan standar keselamatan yang diterapkan.
Hingga saat ini, upaya penyelidikan dan evakuasi masih terus dilakukan oleh tim gabungan dari kepolisian, dinas energi dan sumber daya mineral (ESDM) Kabupaten Bogor, serta pihak lain yang terkait. Masyarakat yang memiliki informasi lebih lanjut atau memiliki keluarga yang bekerja di area pertambangan terkait dapat menghubungi pihak kepolisian setempat atau dinas terkait untuk memberikan informasi yang akurat.
Kita berharap bahwa penyelidikan dapat segera menemukan kebenaran dan pihak berwenang dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menangani situasi ini, termasuk memberikan bantuan kepada korban dan keluarga mereka, serta melakukan tindakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Semoga para korban yang telah meninggal dapat mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan. Aamiin.
Peliput. Kaperwil jabar