Dinamika Bacalon Sekda Sumenep Antara Branding Kerja Sunyi Dan Rekam Jejak Kinerja
Sumenep-M menjelang penentuan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, dinamika internal birokrasi kian menarik untuk dicermati. Sejumlah calon calon (bacalon) mulai terbaca polanya—bukan semata-mata dari intensitas pemberitaan media, tetapi juga dari respon internal Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta rekam jejak kinerja yang tercatat dalam sistem pemerintahan.
Fenomena ini menegaskan satu hal penting: kontestasi Sekda bukanlah kompetisi popularitas, melainkan pertarungan kapasitas manajerial, kepemimpinan birokrasi, dan kepercayaan internal ASN.
Calon “Terbranding” Media: Kuat di Luar, Rapuh di Dalam
Sebagian bacalon tampak hadir dengan citra yang telah “dikonstruksi” secara matang. Pemberitaan masif, narasi positif berulang, hingga framing sebagai figur paling siap memimpin kinerja menjadi pola yang mudah dikenal.
Namun, di balik kemasan tersebut, muncul catatan kritis dari internal OPD. Angka ini dinilai belum sepenuhnya mendapatkan penerimaan hangat. Pola komunikasi yang cenderung elitis serta koordinasi yang kurang mencerminkan kepemimpinan kolektif menjadi sorotan. Dalam konteks ini, media branding yang terlalu dominan justru berpotensi berbanding terbalik dengan realitas kerja birokrasi.
Popularitas, pada titik tertentu, tidak secara otomatis menjamin efektivitas kepemimpinan.
Kerja Sunyi: Minim Sorotan, Maksimal Kepercayaan
Di sisi lain, terdapat bacalon yang nyaris tidak terdengar di ruang publik. Minim ekspose media, tidak agresif membangun citra, namun dikenal luas di internal OPD sebagai sosok pekerja yang konsisten.
Gaya kepemimpinannya egaliter—menguatkan waktu kerja, membuka ruang komunikasi, dan menghindari jarak struktural yang kaku. Bacalon tipe ini sering luput dari radar opini publik, tetapi justru memiliki modal kepercayaan birokrasi yang kuat. Dalam konteks Sekda sebagai “motor penggerak” ASN, karakter seperti ini menjadi aset strategi yang sering kali tak kasat mata.
Inovatif Tanpa Personal Branding
Ada pula bacalon yang menampilkan kinerja inovatif tanpa menonjolkan figur personal. Alih-alih membangun citra individu, capaian kerja justru hadir konsistensi melalui kanal resmi institusi: layanan digitalisasi, program inovatif, hingga indikator kinerja yang terukur.
Model kepemimpinan ini menempatkan institusi di atas individu. Ia tidak menonjolkan sorotan, tetapi membiarkan data, sistem, dan hasil kerja berbicara. Dalam kerangka reformasi birokrasi dan sistem merit, pendekatan semacam ini justru sangat relevan.
Calon Alternatif: Rendah Hati dan Stabil
Sementara itu, terdapat pula bacalon alternatif yang dikenal rendah hati, komunikatif, dan relatif stabil dalam kinerja. Meski sempat memunculkan kontroversi di ruang media, catatan kerjanya menunjukkan target program tercapai dengan baik.
Kontroversi yang muncul lebih bersifat persepsi, bukan menyentuh substansi kinerja. Dalam praktik birokrasi, tokoh seperti ini kerap berperan sebagai penyeimbang—tidak dominan, namun mampu menjaga ritme dan stabilitas organisasi.
Sekda Bukan Soal Siapa Paling Terlihat
Dinamika bacalon Sekda Sumenep menunjukkan bahwa strategi jabatan ini tidak cukup ditentukan oleh siapa yang paling sering tampil di media. Sekda adalah simpul koordinasi, penjaga ritme birokrasi, dan penghubung antara visi politik kepala daerah dengan kerja teknokratis ASN.
Pada akhirnya, seleksi Sekda akan menjadi ujian konsistensi terhadap prinsip meritokrasi: apakah yang dipilih adalah figur kemasan dengan paling menarik, atau gambar dengan kapasitas, rekam jejak, dan kepercayaan internal yang paling kuat.
Karena dalam birokrasi, yang paling menentukan bukanlah siapa yang paling terdengar, melainkan siapa yang paling mampu menggerakkan.