Purbalingga, Tempat Lahir Para Perwira

Purbalingga, Tempat Lahir Para Perwira
02-May-2026 | sorotnuswantoro Purbalingga

Komunitas Historia Perwira menggelar diskusi bertajuk ‘Purbalingga, Tempat Lahir Para Perwira. Acara tersebut menghadirkan pemerhati sejarah, budayawan, penulis buku sampai aktivis sebagai pemantik.

“Kami ingin mengangkat tokoh-tokoh besar di berbagai bidang yang ternyata lahir di Purbalingga,” ujar founder Historia Perwira Gunanto Eko Saputro, pada diskusi yang digelar di Kedai Pojok, Taman Kota Usman Janatin, Jumat (01/05/2026).

Gunanto memaparkan tokoh seperti Jenderal Besar Soedirman, pahlawan nasional yang lahir di Bantarbarang, Rembang, Purbalingga pada 24 Januari 1916. “Kakek Presiden Prabowo Subianto, R.M Margono Djojohadikusumo ternyata lahir di Bodas Karangjati, juga Kecamatan Rembang, Purbalingga pada 16 Mei 1894,” ujarnya.

R.M Margono adalah pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) pada 1946, juga Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) pada kabinet Soekarno – Hatta.

Lalu, ada Mayjend Sungkono, komandan tempur peristiwa ‘Palagan Surabaya 10 November 1945’ yang merupakan kelahiran Prapatan Banteng. Kemudian, ada tokoh ‘Tukang Mbangun Universitas’, Prof. Soegarda Poerbakawatca kelahiran Desa Prigi, Padamara.

“Prof Soegarda itu mendirikan Universitas Syiah Kuala di ujung barat Aceh, sampai Universitas Cenderawasih di ujung timur Papua dan menjadi rektor pertamanya,” imbuhnya.

Lalu, ada pelukis kelas dunia Mas Pierngadie yang karyanya sampai sekarang dipajang di ruang utama Museum Nasional. Pelukis beraliran ‘mooi indie’ itu lahir di Desa Pekiringan, Karangmoncol.

Selain itu, Gunanto juga memaparkan Dokter Tionghoa dari Purbalingga bernama Gan Koen Han yang berperan besar dalam Perang Kemerdekaan. “Dokter Gan membuat penisilin untuk para tentara republik yang mencegah dan mengobati infeksi,” imbuhnya.

Pemerhati Sejarah itu berharap tokoh-tokoh besar yang lahir di Purbalingga itu menjadi inspirasi untuk generasi sekarang dalam berkiprah. “Purbalingga seharusnya lebih dikenal dengan sosok yang inspiratif dan semoga menjadi motivasi yang patut kita teladani,” pungkasnya.

Budayawan Agus Sukoco, menyampaikan wilayah lereng gunung slamet, termasuk Purbalingga dalam perkembangan sejarah dari masa ke masa cenderung memiliki budaya yang masih otentik. Misalnya, pada abad 13-14, pengaruh Majapahit di timur dan Pajajaran di barat tidak terlalu bepengaruh ke ‘tlatah ngapak’.

“Kita ini sosial budayanya cenderung otentik, justru menjadi pelintasan antara kekuasaan di barat dan timur, penelitian sejarah juga membuktikan justru kita lebih tua, maka wajar jika kemudian lahir tokoh-tokoh besar di sini,” ungkapnya.

Salah satu peserta diskusi, Achmad Sirojudin menyebutkan kiprah tokoh lintas sektor yang lahir di Purbalingga itu, jika dimasukan ke promt Artificial Intelegence memenuhi syarat sebagai blue print pembangunan di Nusantara. “Tokoh-tokoh dalam diskusi ini multidisiplin - ada militer, ahli keuangan pendidikan, dokter, seni - yang kemudian AI membaca bisa dijadikan sebagai road map pembangunan di sebuah kota negeri ini,” urainya.

Sementara itu, Afit Susanto mengajak agar hasil diskusi ini ditindak lanjuti dengan Langkah kongkrit. “Saya mengajak agar hal ini tidak berhenti disini, tapi dibuat kajian dalam rangka masukan kebijakan pembangunan Purbalingga ke depan,” ujarnya.

Diskusi berlangsung ‘gayeng’ dan dipenuhi antusiame dari puluhan peserta yang hadir. Mereka berasal dari tokoh lintas sektor, pelajar, mahasiswa, petani, dan masyarakat umum. (Historia Perwira – Red)

Tags