Lima Hari Menunggu Di Tepi Harap, Ali Pulang Dalam Diam Dari Teluk Love

Lima Hari Menunggu Di Tepi Harap, Ali Pulang Dalam Diam Dari Teluk Lov
04-May-2026 | sorotnuswantoro Jember

JEMBER, 3 Mei 2026 – Pagi itu, laut di Teluk Love kembali tenang. Tak ada lagi riak kepanikan, tak ada lagi teriakan minta tolong. Hanya suara ombak yang datang dan pergi, seolah menyimpan cerita yang tak pernah benar-benar usai.

Di tempat itulah, lima hari sebelumnya, Ali Makhrus (33) terakhir kali terlihat.

Sejak Selasa (28/4), keluarga menunggu dengan satu harapan sederhana: Ali pulang. Hidup. Atau setidaknya ditemukan. Waktu berjalan lambat, dan setiap hari terasa lebih berat dari sebelumnya.

Di darat, doa tak pernah putus. Di laut, tim SAR tak berhenti menyisir.

Hingga Minggu pagi (3/5), kabar itu akhirnya datang—kabar yang mengakhiri pencarian, sekaligus mematahkan harapan.

Ali ditemukan. Tapi tak lagi bernyawa.

Tubuhnya ditemukan sekitar 200 meter dari titik ia terakhir terlihat, seakan laut mengembalikannya perlahan setelah lima hari menahan cerita. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan kabar itu dengan singkat, namun berat.

Di balik pernyataan resmi, ada satu keluarga yang harus menerima kenyataan paling sunyi: kehilangan.

Hari itu sebenarnya tak dimulai dengan firasat buruk. Ali datang ke tebing belakang Teluk Love bersama dua temannya, seperti hari-hari memancing lainnya. Laut adalah tempat yang sudah akrab—memberi hasil, memberi ketenangan.

Namun laut juga menyimpan wajah lain.

Saat ombak mulai meninggi dan angin berubah arah, dua rekannya mengajak Ali untuk mundur. Mereka berhasil melompat ke tempat yang lebih aman.

Ali tertinggal—hanya beberapa detik.

Dan kadang, beberapa detik sudah cukup untuk mengubah segalanya.

Sebuah ombak besar datang dari belakang, menghantam tubuhnya tanpa ampun. Ia terjatuh ke arah laut. Tangan-tangan yang mencoba menolong tak mampu melawan derasnya arus. Dalam sekejap, Ali hilang.

Yang tersisa hanyalah laut yang kembali tenang—seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Hari-hari setelahnya dipenuhi pencarian. Perahu-perahu bergerak pelan di atas permukaan air, mata-mata menyisir cakrawala, berharap melihat tanda sekecil apa pun.

Setiap pagi dimulai dengan harapan. Setiap sore ditutup dengan kecemasan.

Hingga hari kelima, laut akhirnya “mengembalikan” Ali.

Ia dievakuasi, dibawa ke darat, lalu ke Puskesmas Ambulu. Perjalanan terakhirnya berakhir di pelukan keluarga—bukan seperti yang mereka bayangkan, tapi seperti yang harus mereka terima.

Di balik keindahan Teluk Love, ada cerita-cerita yang tak selalu indah. Ombak yang tampak menenangkan, bisa berubah menjadi ancaman dalam sekejap.

Ali kini telah pulang. Tapi bukan dengan langkah yang sama seperti saat ia berangkat.

Yang tertinggal adalah kenangan, dan pelajaran yang datang terlambat: bahwa laut, seindah apa pun, selalu menyimpan kekuatan yang tak bisa ditawar.

Dan bagi keluarga, penantian lima hari itu akan selalu dikenang—sebagai waktu ketika harapan perlahan berubah menjadi perpisahan.

Tags