Tanggul Sungai Bodri Di Pidodokulon Jebol Hampir Dua Pekan, Ratusan Warga Terancam Banjir
Tanggul Sungai Bodri di Pidodokulon Patebon Jebol
KENDAL – Ratusan warga Dusun Pilangsari, Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal terancam kembali terdampak banjir akibat tanggul Sungai Bodri yang jebol dan hingga kini belum juga diperbaiki. Warga khawatir air sungai kembali meluap ke permukiman karena kerusakan tanggul sudah berlangsung hampir dua pekan.
Potensi curah hujan yang masih tinggi di wilayah Kabupaten Kendal semakin menambah keresahan masyarakat. Warga Dusun Pilangsari khawatir banjir kembali terjadi karena tanggul penahan air Sungai Bodri yang jebol belum mendapatkan penanganan serius dari pihak terkait.
Jika banjir kembali melanda, sedikitnya sekitar 350 jiwa di wilayah tersebut diperkirakan akan terdampak. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat agar kerusakan tanggul tidak semakin parah dan mengancam keselamatan masyarakat.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan PSDA Provinsi Jawa Tengah terkait kerusakan tanggul tersebut. Menurutnya, penanganan tanggul Sungai Bodri merupakan kewenangan pemerintah provinsi.
“Kami telah berkoordinasi dengan PSDA Provinsi, karena ini kewenangan dari pemerintah provinsi dan masih menunggu dari kewenangan provinsi, tetapi kami tentunya terus berupaya meminta agar segera dilaksanakan atau ditindaklanjuti,” jelasnya, Senin (25/5/26).
“Karena ini kewenangan provinsi dan belanja modal tidak memungkinkan untuk APBD Kabupaten, nanti kami melalui OPD terkait akan tanyakan langsung ke PUPR yang rapat dengan dinas provinsi,” imbuh Bupati yang akrab disapa Bu Tika tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Pidodokulon, Didik Prastiawan menegaskan pihak desa sudah beberapa kali menyampaikan surat permohonan penanganan kepada PUPR maupun PSDA Kabupaten dan Provinsi. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut perbaikan di lokasi tanggul yang jebol.
“Kami sudah melampirkan surat ke PUPR maupun PSDA kabupaten dan provinsi, akan tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya dan kami sebagai pemerintah desa hanya bisa berupaya semampu kami,” tegas Didik.
Menurut Didik, sebelum tanggul jebol pihak desa bersama warga telah melakukan penanganan secara swadaya dengan memperkuat tanggul menggunakan karung pasir. Upaya tersebut bahkan dilakukan hingga tiga kali demi mencegah banjir masuk ke permukiman warga.
“Dari sebelum jebol kami sudah melakukan penanganan swadaya penambahan tanggul dengan karung pasir. Bahkan sampai tiga kali kita lakukan penanganan swadaya. Saya sangat berharap kepada pihak terkait agar segera memperbaiki tanggul yang jebol, warga was-was kalau sewaktu-waktu banjir datang karena tanggul penahan sudah tidak ada,” tutup Didik.(*)