Tradisi Neduh Desa Pojok Gelar Wayang Kulit Wahyu Mangku Romo Bersama Ki Dalang Minto Darsono
Tradisi neduh desa pojok gelar wayang kulit wahyu msngku rama bersama kidalang minto darsono
TULUNGAGUNG – Suasana Balai Desa Pojok, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, berubah semarak pada Rabu malam (2/9/2026). Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangkaian kegiatan Bersih Desa Pojok.
Pemerintah Desa (Pemdes) Pojok menghadirkan dalang asal Tulungagung, Ki Minto Darsono, untuk membawakan lakon “Wahyu Mahkuto Romo”. Pagelaran dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan berlangsung meriah hingga malam.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak sebelum pertunjukan dimulai. Warga dari berbagai kalangan datang untuk menikmati kesenian wayang kulit sekaligus merasakan suasana kebersamaan dalam tradisi tahunan Bersih Desa.
Dengan bintang tamu“Jo Klithik Jo Kluthuk”, pagelaran tersebut bukan sekadar hiburan. Wayang kulit menjadi ruang pertemuan masyarakat sekaligus sarana untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya, filosofi kehidupan, serta kesenian tradisional kepada generasi muda.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Pojok, Ismiati, Pemdes Pojok berupaya menjadikan Bersih Desa sebagai momentum yang tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkuat semangat guyub, gotong royong dan kebersamaan warga.
Kemeriahan semakin terasa ketika Ki Minto Darsono mulai memainkan lakon Wahyu Mahkuto Romo. Alunan gamelan, suara sinden, serta kepiawaian sang dalang menghidupkan setiap tokoh membuat suasana di Balai Desa Pojok semakin semarak.
Warga tampak menikmati jalannya pertunjukan. Bagi masyarakat Pojok, pagelaran wayang kulit menjadi salah satu bagian penting dari tradisi Bersih Desa yang terus dipertahankan dari waktu ke waktu.
Kepala Desa Pojok Ismiati bersama jajaran pemerintah desa juga menunjukkan komitmen untuk terus memberikan ruang bagi kegiatan kebudayaan di tengah masyarakat.
Menurut Pemdes Pojok, tradisi tidak harus berhadapan dengan perkembangan zaman. Justru melalui kegiatan seperti Bersih Desa dan pagelaran wayang kulit, budaya lokal dapat terus dikenalkan, dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Bersih Desa bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah momentum untuk berkumpul, mempererat persaudaraan, menjaga keguyuban warga sekaligus melestarikan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” demikian semangat yang dibangun dalam kegiatan tersebut.
Pagelaran wayang kulit Ki Minto Darsono pun menjadi penutup malam yang penuh kebersamaan. Di tengah perkembangan zaman dan derasnya hiburan modern, Pemdes Pojok membuktikan bahwa kesenian tradisional masih mampu menjadi magnet bagi masyarakat.
Dari Balai Desa Pojok, tradisi itu kembali hidup. Wayang kulit bukan hanya dipentaskan, tetapi menjadi pengingat bahwa identitas budaya desa tetap memiliki tempat penting di tengah masyarakat.
Rangkaian Bersih Desa Pojok diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus menjadi ruang untuk memperkuat persatuan warga, merawat budaya lokal, sekaligus mendorong desa agar berkembang tanpa kehilangan jati dirinya
(Frn)