Kongres Perempuan Nasional Di Semarang, Angkat Isu Demokrasi Dan Kebudayaan Lewat Gelar Budaya

Kongres Perempuan Nasional Di Semarang, Angkat Isu Demokrasi Dan Kebud
17-Apr-2026 | sorotnuswantoro Semarang

SEMARANG — Panitia Kongres Perempuan Nasional 2026 menggelar rangkaian kegiatan bertajuk gelar budaya yang mengangkat tema perempuan, demokrasi, dan kebudayaan di Galeri Industri Kreatif Kota Semarang. Kegiatan ini akan berlangsung mulai 25 April hingga 10 Mei 2026, dengan pembukaan resmi dijadwalkan pada Sabtu, 25 April 2026 pukul 19.00 WIB oleh Wali Kota Semarang.

Rangkaian acara diawali dengan pameran lukisan “Sketsa Perempuan” karya Hartono yang akan berlangsung selama periode kegiatan. Selain itu, pada 27 April 2026 pukul 14.00 WIB akan digelar sesi diskusi perempuan yang dilanjutkan dengan pentas lagu puisi oleh komunitas Satoe Boemi.

Selanjutnya, pada 1 Mei 2026 pukul 19.00 WIB, kegiatan akan diisi dengan pembacaan puisi oleh Ign. Item dan sejumlah sastrawan lainnya, serta pertunjukan teatrikal sastra “Mbohlah 2” bersama Slamet Unggul dan kawan-kawan. Sementara itu, pada 7 Mei 2026 pukul 19.00 WIB, akan digelar diskusi bersama Dekase dengan tema menimbang Perda Pemajuan Kebudayaan.

Rangkaian kegiatan akan ditutup pada 10 Mei 2026 pukul 19.00 WIB dengan pentas musik oleh KPJ sekaligus penutupan acara. Gelar budaya ini juga akan dimeriahkan oleh sejumlah komunitas dan kelompok seni, di antaranya Setara, Lestra dan Stoeboemi, sebagai bentuk partisipasi aktif dalam mendorong peran perempuan dalam ruang demokrasi dan kebudayaan.

Kelana Kristianingtyas dari LesTra menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang penting untuk memperkuat peran perempuan dalam ekosistem kebudayaan. “Gelar budaya ini bukan sekadar perayaan seni, tetapi juga wadah refleksi dan konsolidasi gagasan perempuan dalam merespons dinamika demokrasi saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan berbagai komunitas diharapkan mampu memperluas jejaring serta mendorong lahirnya gerakan kebudayaan yang lebih inklusif. “Kami ingin memastikan suara perempuan hadir dan diperhitungkan dalam proses pembangunan kebudayaan, sekaligus memperkuat solidaritas lintas komunitas,” kata Kelana.(*)

Tags