Legenda Weleri Bangkit! Kali Damar Suguhkan Drama Musikal Yang Bikin Penonton Tak Berkedip
KENDAL– Legenda asal-usul Weleri kembali bangkit di atas panggung melalui drama musikal “Kali Damar” yang sukses memukau penonton di Teras Nirwana Boja, Kabupaten Kendal, Senin (21/4/2026) malam. Pertunjukan garapan Teater Atmosfer ini mengemas cerita folklore lokal dengan sentuhan kontemporer hingga membuat penonton tak berkedip sepanjang pementasan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal yang di wakili Sub Koordinator Sejarah Yuhan Cahyantara, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah hadir dan mendukung kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Daerah terus berupaya memfasilitasi ruang bagi perkembangan seni pertunjukan di Kendal dan terima kasih juga kepada masyarakat maupun para Camat Siboli (Singorojo,Boja,Limbangan) dan para kades Siboli terlebih Kades Sambong Sari Weleri Bani Ardi yang sudah berkenan hadir.
“Penonton sangat Antusias, Kami juga memfasilitasi pentas drama musikal berjudul Kali Damar. Teater adalah salah satu seni pertunjukan yang sudah ada sejak lama. Alhamdulillah, di tahun ini akan ada dua pementasan teater, salah satunya di Boja, kemudian pada tanggal 2 Mei akan ada pementasan yang melibatkan anak-anak. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menggalakkan kembali minat generasi muda terhadap sejarah seni pertunjukan, khususnya kebudayaan,” ucapnya.
Sementara itu, pemeran Pangeran Sambong sekaligus Stage Manager, R. Arief Rahman Hunter S., mengungkapkan bahwa malam ini kami dari Teater Atmosfer yang di Fasilitasi Disdikbud Kendal dan di Support Media Arsy Aray Production mempertunjukkan cerita folklore Kabupaten Kendal yang bersumber weleri.kendalkab.go.id tentang asal-usul Weleri, kemudian kami adaptasi dan balut secara kontemporer dalam bentuk drama musikal.
Ia menambahkan, kisah dalam pertunjukan ini berangkat dari cerita roman yang melibatkan tokoh wanita cantik Nyai Damariyah, yang juga dikenal sebagai Nyai Pandansari atau Sri Pandan, bersama Nyai Wungu. Dalam alur cerita, mereka bertemu dengan Pangeran Sambong beserta dua muridnya, Bagus Wuragil dan Denowo.
“Pangeran Sambong merupakan salah satu tokoh dari Mataram yang pernah berperang melawan Belanda di Batavia serta merupakan murid Tumenggung Bahurekso. Tempat pertemuan tokoh-tokoh tersebut kini dikenal dengan nama Sambung, yang memiliki makna menyambung kembali tali persaudaraan,” Ujar R. Arief Rahman S.
Antusiasme penonton terlihat jelas sepanjang pertunjukan. Salah satu penonton, R. Bayu Adhi Pamungkas, mengaku sangat terpukau dengan penampilan yang disuguhkan.
“Saya sangat terpukau dengan penampilan drama musikal dari Teater Atmosfer. Penyajiannya sangat menarik dan mampu menghidupkan kembali cerita rakyat dengan cara yang modern dan menghibur,” pungkasnya.
Pementasan Kali Damar ini menjadi bukti bahwa seni teater masih memiliki tempat di hati masyarakat sekaligus menjadi media efektif dalam mengenalkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya lokal kepada generasi muda.(*)