Fmti 2026 Hadir Di Wonosobo, Bundengan Jadi Sorotan Utama

Fmti 2026 Hadir Di Wonosobo, Bundengan Jadi Sorotan Utama
14-Oct-2026 | sorotnuswantoro Wonosobo

Kabupaten Wonosobo terpilih menjadi salah satu dari 10 daerah penyelenggara Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026. Festival berskala nasional ini akan digelar pada Minggu, 18 Oktober 2026, di Lapangan Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, dengan mengangkat kekayaan musik tradisional Nusantara dan Bundengan sebagai salah satu warisan budaya khas Wonosobo.

Mengusung tema besar “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara”, penyelenggaraan FMTI 2026 di Wonosobo membawa subtema “Gong Culture Diaspora dan Resonansi Gamelan”. Festival ini menjadi ruang untuk memperkenalkan, mengembangkan, sekaligus memperkuat pelestarian musik tradisional di tengah perkembangan zaman.

Salah satu daya tarik utama festival tersebut adalah Bundengan, alat musik tradisional khas Wonosobo yang terbuat dari bambu dan ijuk. Instrumen ini memiliki keunikan karena mampu menghasilkan resonansi bunyi yang menyerupai suara sejumlah instrumen gamelan.

Bundengan menjadi bukti kreativitas masyarakat lokal dalam mengembangkan kesenian tradisional yang memiliki karakteristik tersendiri. Melalui festival ini, keberadaan Bundengan diharapkan semakin dikenal masyarakat luas, termasuk generasi muda dan wisatawan dari luar daerah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan terpilihnya Wonosobo sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan FMTI 2026 merupakan bentuk apresiasi terhadap perkembangan musik tradisional berbasis komunitas.

Menurut Fahmi, kehidupan seni tradisi di Wonosobo terus berkembang melalui keterlibatan kelompok-kelompok seni yang aktif menjaga dan memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat.

“Dipilihnya Wonosobo sebagai lokasi penyelenggaraan salah satunya hasil dari analisa algoritma, yang menunjukkan bahwa seni musik tradisional di Wonosobo berkembang cukup bagus. Sebagaimana yang dilakukan Sanggar Seni Setyo Langen Budhoyo Desa Reco Wonosobo, melalui seni pertunjukan imblig,” ucap Fahmi.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan festival tersebut tidak hanya berorientasi pada pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ekosistem kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.

Hadirkan Kolaborasi Seniman Lintas Daerah

FMTI 2026 di Wonosobo akan menghadirkan sejumlah kelompok seni yang selama ini berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan musik tradisional.

Salah satunya adalah Setyo Langen Budhoyo, kelompok seni yang menjadi wadah pelestarian seni kerakyatan lintas wilayah Wonosobo dan Temanggung. Dalam festival tersebut, kelompok ini akan menyuguhkan perpaduan musik Bundengan, tari topeng lengger, imblig dhem, hingga jaran kepang.

Selain itu, Saras Swara Indonesia, komunitas seni asal Wonosobo yang aktif dalam inovasi dan pengembangan karawitan serta instrumen musik tradisional Nusantara, turut memeriahkan rangkaian pertunjukan.

Festival ini juga akan menghadirkan Saleho Karya Budaya dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada puncak acara.

Kehadiran kelompok seni dari berbagai daerah tersebut diharapkan memperkaya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpelaku seni, sekaligus memperlihatkan keberagaman ekspresi musik tradisional Indonesia.

Seminar dan Touring Budaya Jadi Pembuka

Rangkaian kegiatan FMTI 2026 di Wonosobo akan diawali dengan Seminar Budaya pada Sabtu, 17 Oktober 2026, bertempat di Ruang Rapat Mangunkusumo.

Selanjutnya, pada Minggu pagi, 18 Oktober 2026, akan digelar Touring Budaya dengan rute yang mencakup Situs Watu Gong di Desa Tumenggungan, Masjid Al Manshur Wonosobo, Museum Daerah di Kalianget, serta kompleks Pendopo Bupati Wonosobo.

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, dan warisan lokal Wonosobo kepada masyarakat serta peserta festival.

Pemilihan kawasan terbuka di lereng Gunung Sumbing sebagai lokasi utama pertunjukan juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati kesenian tradisional dalam suasana alam pegunungan.

Dorong Wisata Budaya dan UMKM Lokal

Selain menyajikan pertunjukan musik tradisional, festival ini juga akan mengintegrasikan pasar kuliner tradisional dan pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khas Wonosobo.

Kegiatan tersebut diharapkan memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah kepada pengunjung.

Fahmi mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk hadir dan meramaikan festival yang menggabungkan pertunjukan seni, edukasi budaya, kuliner, serta produk kerajinan lokal tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk memadati area festival. Selain menyajikan edukasi budaya dan pertunjukan musik langka, acara ini juga akan mengintegrasikan pasar kuliner tradisional serta pameran kerajinan UMKM khas Wonosobo,” terangnya.

Festival Musik Tradisi Indonesia 2026 sendiri dirancang sebagai rangkaian perayaan kebudayaan yang berlangsung di 10 daerah di Indonesia, mulai Oktober 2026 hingga puncaknya pada Mei 2027.

Melalui penyelenggaraan ini, musik tradisional diharapkan tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga terus berkembang dan memperoleh tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Bagi Wonosobo, FMTI 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan Bundengan dan kesenian lokal lainnya kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu ruang tumbuhnya kebudayaan Nusantara.

Tags